Feeds:
Posts
Comments

Pengalaman Baru

Di tengah aktivitas Merapi yang begitu dahsyat menghantam Jogjaku… sempat menghentikan aktivitas Kampusku yang memang berada dalam batas radius sekitar 20 km  dari puncak Merapi..  Rumah baruku yang ada di Prumpung yang sudah kutempati sekitar 9 bulan lamanya juga tidak lepas dari abu vulkanik muntahan Merapi… Lengkaplah sudah alasanku untuk tidak berada di Jogja…. 2 minggu lamanya tidak berhadapan dengan mahasiswa, rasa kangen untuk mengajar kembali hadir.. tapi apalah daya…

Tiba-tiba, rasa kangen itu terobati dengan giliran ngajar dalam Team teaching di Ponorogo… Ini adalah pengalaman pertama mengajar S2… Pikiran tertuju ke mahasiswa yang tentunya sudah “sepuh”, sudah “pengalaman”, sudah “S1” …wow…

Seperti biasa, setiap yang pertama selalu “nervous”… meskipun sudah ada persiapan jauh-jauh hari sebelumnya… Setelah mulai berkenalan dengan mahasiswa S2 Unmuh Ponorogo, ternyata mereka adalah mahasiswa yang notabene masih sangat belia, energik, cerdas, bahkan sudah ada yang S2 sebelumnya tetapi jurusan ekonomi… waduh….

beberapa menit berlalu… hening… saya lontarkan teguran kepada satu mahasiswa… “Pak… melamun ya!” karena saya melihat beliaunya yang diam memegang dagu… beliau menjawab “ndak buk… saya terpesona dengan suara ibu yang merdu”…. haa haaaa haaa

sontak seluruh kelas yang berjumlah 20 mahasiswa tertawa riuh…

baru kali ini saya dengar ada mahasiswa yang berkomentar seperti itu.. yach.. itulah pengalaman baru saya, mengajar S2 di Unmuh Ponorogo…

Segelas Air Keimanan

Di tengah aktivitas bulan puasa, tiba-tiba saya menemukan tulisan ini di sepia.blogsome.com.  Semoga bisa bermanfaat…

Saat puasa tiba, sikap orang akan berbeda-beda. Sebagian mengurangi aktifitas untuk menghemat tenaga. Sebagian yang lain melakukan berbagai kiat untuk menambah masukan nutrisi ke dalam tubuh. Yang lain lagi bersikap biasa-biasa saja.

Fenomena yang lazim ditemui saat puasa tiba adalah belanja keluarga yang bukannya turun, eh malah naik. Bagaimana bisa? Karena istimewanya puasa ini maka makanan pun dibuat istimewa, akhirnya yang semestinya makin hemat justru makin boros.

Kita tidak bicara tentang siapa yang benar siapa yang salah. Mari kita bicara saja tentang segelas air.

Terkadang, entah karena suatu hal, kita bangun terlambat, sehingga tidak sempat sahur. Saya pernah mengalami hal itu beberapa kali. Pernah suatu kali masih sempat minum segelas air. Kali yang lain tidak makan minum sama sekali. Mungkin Anda juga pernah mengalami?

Yang menarik dari pengalaman itu adalah apa yang dirasakan sepanjang siang hari puasa. Ternyata kuat-kuat saja. Haus? Ya tentu. Kuat? Alhamdulillah, kuat. Dari pengalaman itu muncul kesimpulan bahwa ‘rasa’ puasa itu sangat bergantung niat, bukan apa yang masuk ke dalam perut kita.

Ada sebuah kisah nyata yang populer baik bagi orang Islam maupun Kristen. Kisah itu tentang David vs Goliath (nama dalam kristen) atau Daud vs Jalut (nama dalam Islam). Ini adalah kisah seorang remaja yang berhasil membunuh seorang raja musuh yang berbadan besar dengan menggunakan ketapel. Kisah ini populer sebagai cerita tentang lebih pentingnya kecerdikan daripada fisik untuk meraih keberhasilan. Nah, di sekitar kisah itu ada kisah lain yang tak kalah dahsyat, yaitu tentang para pasukan yang berperang, dimana Daud ikut di dalamnya. Kisah ini dicantumkan di Al Qur’an dalam surat Al Baqarah 246 – 251.

Kisah ini dimulai saat Musa telah meninggal dan Bani Israil menjadi bangsa yang lemah lagi terancam. Kemudian para petinggi kaum Israil itu minta kepada Nabi mereka (saat itu masih jaman turunnya nabi-nabi dengan tanda-tanda kenabian mereka, jumlah nabi itu ada ratusan ribu, demikian menurut para ulama). Kemudian Nabi tersebut menyampaikan bahwa Thalut, seorang dari kalangan biasa, adalah raja yang terpilih. Tentu saja kaum bangsawan sempat protes, namun kemudian mereka tunduk setelah melihat bukti-bukti kebenaran tentang hal itu. Thalut adalah seorang yang berilmu dan berfisik kuat.

Kemudian Thalut membawa tentaranya (tepatnya adalah para laki-laki, termasuk pula Daud yang masih remaja) pergi menyambut tentara Jalut. Thalut, yang mengetahui dari ilmunya, menyampaikan bahwa mereka akan menemui sungai, dan Tuhan akan menguji para laki-laki itu dengan sungai tersebut. Hingga setelah perjalanan jauh yang melelahkan, tibalah mereka di sebuah sungai yang membatasi tentara Thalut dan Jalut. Thalut berkata bahwa mereka yang sungguh-sungguh akan berperang tidak boleh minum air sungai itu, atau kalau pun minum hanya boleh satu cakupan tangan. Maka terpisahlah tentara Thalut itu menjadi dua golongan, mereka yang taat sehingga tidak minum atau hanya minum seteguk dari cakupan tangannya, dan sebagian lain yang menganggap perintah Thalut itu tidak masuk akal dan karenanya cuek saja minum sepuasnya. Bagi yang ingkar, sungguh tak masuk akal tentara yang kelelahan setelah berjalan jauh, kok malah tidak boleh minum padahal sebentar lagi akan berperang dengan musuh yang menakutkan.

Namun di situlah letak keajaibannya. Setelah minum air sungai, golongan yang ingkar dan minum sepuasnya di sungai tadi, tiba-tiba diliputi kecemasan dan ketakutan yang mat sangat, sehingga gentarlah hati mereka dan bergetarlah lutut-lutut mereka. Sementara golongan yang taat dan beriman terhadap apa yang disampaikan Thalut ternyata bersemangat dan memiliki keyakinan kuat dalam menghadapi musuh mereka. Mereka yang telah minum berkata, ” “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Sementara mereka yang taat menjawab, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Thalut dengan pasukannya yang beriman kemudian menyeberangi sungai tersebut untuk menyambut tentara Jalut.

Pertempuran dengan jumlah tentara yang tidak seimbang itu akhirnya dimenangkan oleh pasukan kecil Thalut, dimana Daud berhasil membunuh Jalut.

Dalam kisah itu, mereka yang ingkar dan kemudian meminum air sungai telah mengandalkan logika mereka dalam menjalani tugas yang berat. Hal itu dikarenakan mereka tidak yakin atas kepemimpinan Thalut. Sementara mereka yang setia dengan Thalut meyakini bahwa dengan ilmunya itu Thalut memberitakan hal yang benar, karena itu mereka taat dan meyakini bahwa untuk sukses menunaikan tugas yang sangat berat tersebut bukanlah kekuatan fisik yang bisa mereka andalkan, namun kekuatan keyakinan.

Segelas air dan keimanan. Saya kira hal yang sama terjadi bagi mereka yang berpuasa. Mereka yang terlalu berhitung dengan masukan nutrisi dan lain-lain bisa saja justru menjalani puasa dengan berat, sementara mereka yang bermodal bismillah dan kesahajaan menjadi ringan dalam menjalani puasa. Tentu saja bukan kemudian tidak sahur, sebab telah disunnahkan oleh Rasulullah untuk sahur, karena di dalamnya ada keberkahan. Yang penting disadari adalah bahwa kuat tidaknya menjalani puasa bukanlah karena lengkap tidaknya nutrisi yang dimakan, namun lebih karena keyakinan bahwa ada manfaat tersembunyi yang luar biasa besar dalam ibadah puasa tersebut.

Wallahu a’lam.

Syukur…

Sampai detik ini saya merasakan nikmat yang tiada tara… Sampai detik ini juga saya merasakan usia yang semakin senja… meskipun semangat tetap membara untuk bisa melaju di muka bumi, tapi Allah telah menuliskan takdirku…

meskipun penyakit tiada kuderita, tapi peringatan Allah begitu jelas kurasakan….

Gigi yang mulai tanggal satu persatu…

tenaga yang mulai berkurang…

rambut yang sudah mulai beruban…

kulit yang sudah mulai keriput…

tapi kenapa diriku tidak bisa lebih mendekat kepadaMu..

Apa arti SYUKUR yang sesungguhnya jika hanya dunia yang kukejar…

Semakin kuyakin kini bahwa rejeki memang sudah diatur olehNya, Semakin kuyakini bahwa KEINGINAN dan DOA harus selalu beriringan…. Dan ternyata, TUHAN mengabulkan doa kita dengan tiga cara:

1.  Apabila TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA YANG KITA MINTA,

2. Apabila TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendapatkan yang LEBIH BAIK,

3. Apabila TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendakNYA.

Pandai-pandailah mengucap SYUKUR atas apa yang kita terima—APAPUN— itu…

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Bukan besar kecilnya yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
Karena sebaik-baiknya orang ialah orang yang bermanfaat bagi sesamanya

…cinta Agung

adalah

ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya….

adalah

ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia…

adalah

ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sembari berkata “Aku turut berbahagia untukmu”…

Apabila cinta tidak berhasil…. BEBASKAN dirimu….

Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI….

Ingatlah… bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya…

tapi….

ketika cinta itu mati.. kamu TIDAK perlu mati bersamanya…

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang… MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh…

Meskipun sudah terlambat (untuk memperingati hari Ibu).. biarlah kutipan tulisan ini menjadi sesuatu yang harusnya kita renungkan.. Sudah lama sekali saya mencari jawaban atas pertanyaan itu.. Semoga apa yang saya dapatkan ini bisa melukiskan gambaran betapa ***… menjadi seorang ibu..

—————————–

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, “Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?” Dalam mimpinya Tuhan menjawab, “Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu. Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah. Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan menjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak?

Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup, karena di kakinyalah kita menemukan surga.

Perjalananku…

Lama sekali tak kusentuh blog ini… terlindas dengan mainan baru yg namanya pacebuk…  tapi.. di sini ada hal2 yg berbeda, keinginan berkata-kata panjang dan lama…

Pengen kuceritakan perjalanan ini sebagai suatu guratan pena yg juga menyenangkan dan berkesan… Manado kotanya.. kota di ujung pulau Sulawesi ini, aku (dan tiga rekan dosen laennya dari UII) kunjungi tgl 17-20 Nopember ’09 yang lalu berkenaan dengan kegiatan Aptikom… Rakor dosen Informatika dan komputer seluruh Indonesia…

Kegiatan berjalan lancar, meskipun rakor berlangsung sampe jam 12 malam… tetapi agaknya panitia memang kurang siap sehingga banyak hal yang sedikit disesalkan…

———————-

Menado kota kecil yang bersih (bersih juga dari pengemis, pengamen, maupun pedagang asongan) dikelilingi laut dan gunung.. saat itu udara lagi sejuk, sesekali diselingi hujan… Kota yang agaknya sangat menjunjung tinggi toleransi beragama ini, terkenal dengan 4B nya… Bubur Manado, Bulevard, Bunaken, Bitung… tapi jangan lupa Tondano, Tomohon, Malalayang… wuahh.. kalo mau disebut tempat wisatanya, buanyak sekali… Mau berwisata kuliner? ikan cakalang fufu, ikan Roa, klapper tart, dan makanan2 ringan seperti bagea, kacang goyang, kenari dan masih banyak lagi yang bisa dicicipi di Menado…

Sayang sekali, daku belum puas dengan jalan2 nya…. pengen ke sana lagi…

Ayooook.. sapa yang mau diantar ke Manado? Saya siap …. he..he.. pengen diving di Bunaken…