Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2010

Segelas Air Keimanan

Di tengah aktivitas bulan puasa, tiba-tiba saya menemukan tulisan ini di sepia.blogsome.com.  Semoga bisa bermanfaat…

Saat puasa tiba, sikap orang akan berbeda-beda. Sebagian mengurangi aktifitas untuk menghemat tenaga. Sebagian yang lain melakukan berbagai kiat untuk menambah masukan nutrisi ke dalam tubuh. Yang lain lagi bersikap biasa-biasa saja.

Fenomena yang lazim ditemui saat puasa tiba adalah belanja keluarga yang bukannya turun, eh malah naik. Bagaimana bisa? Karena istimewanya puasa ini maka makanan pun dibuat istimewa, akhirnya yang semestinya makin hemat justru makin boros.

Kita tidak bicara tentang siapa yang benar siapa yang salah. Mari kita bicara saja tentang segelas air.

Terkadang, entah karena suatu hal, kita bangun terlambat, sehingga tidak sempat sahur. Saya pernah mengalami hal itu beberapa kali. Pernah suatu kali masih sempat minum segelas air. Kali yang lain tidak makan minum sama sekali. Mungkin Anda juga pernah mengalami?

Yang menarik dari pengalaman itu adalah apa yang dirasakan sepanjang siang hari puasa. Ternyata kuat-kuat saja. Haus? Ya tentu. Kuat? Alhamdulillah, kuat. Dari pengalaman itu muncul kesimpulan bahwa ‘rasa’ puasa itu sangat bergantung niat, bukan apa yang masuk ke dalam perut kita.

Ada sebuah kisah nyata yang populer baik bagi orang Islam maupun Kristen. Kisah itu tentang David vs Goliath (nama dalam kristen) atau Daud vs Jalut (nama dalam Islam). Ini adalah kisah seorang remaja yang berhasil membunuh seorang raja musuh yang berbadan besar dengan menggunakan ketapel. Kisah ini populer sebagai cerita tentang lebih pentingnya kecerdikan daripada fisik untuk meraih keberhasilan. Nah, di sekitar kisah itu ada kisah lain yang tak kalah dahsyat, yaitu tentang para pasukan yang berperang, dimana Daud ikut di dalamnya. Kisah ini dicantumkan di Al Qur’an dalam surat Al Baqarah 246 – 251.

Kisah ini dimulai saat Musa telah meninggal dan Bani Israil menjadi bangsa yang lemah lagi terancam. Kemudian para petinggi kaum Israil itu minta kepada Nabi mereka (saat itu masih jaman turunnya nabi-nabi dengan tanda-tanda kenabian mereka, jumlah nabi itu ada ratusan ribu, demikian menurut para ulama). Kemudian Nabi tersebut menyampaikan bahwa Thalut, seorang dari kalangan biasa, adalah raja yang terpilih. Tentu saja kaum bangsawan sempat protes, namun kemudian mereka tunduk setelah melihat bukti-bukti kebenaran tentang hal itu. Thalut adalah seorang yang berilmu dan berfisik kuat.

Kemudian Thalut membawa tentaranya (tepatnya adalah para laki-laki, termasuk pula Daud yang masih remaja) pergi menyambut tentara Jalut. Thalut, yang mengetahui dari ilmunya, menyampaikan bahwa mereka akan menemui sungai, dan Tuhan akan menguji para laki-laki itu dengan sungai tersebut. Hingga setelah perjalanan jauh yang melelahkan, tibalah mereka di sebuah sungai yang membatasi tentara Thalut dan Jalut. Thalut berkata bahwa mereka yang sungguh-sungguh akan berperang tidak boleh minum air sungai itu, atau kalau pun minum hanya boleh satu cakupan tangan. Maka terpisahlah tentara Thalut itu menjadi dua golongan, mereka yang taat sehingga tidak minum atau hanya minum seteguk dari cakupan tangannya, dan sebagian lain yang menganggap perintah Thalut itu tidak masuk akal dan karenanya cuek saja minum sepuasnya. Bagi yang ingkar, sungguh tak masuk akal tentara yang kelelahan setelah berjalan jauh, kok malah tidak boleh minum padahal sebentar lagi akan berperang dengan musuh yang menakutkan.

Namun di situlah letak keajaibannya. Setelah minum air sungai, golongan yang ingkar dan minum sepuasnya di sungai tadi, tiba-tiba diliputi kecemasan dan ketakutan yang mat sangat, sehingga gentarlah hati mereka dan bergetarlah lutut-lutut mereka. Sementara golongan yang taat dan beriman terhadap apa yang disampaikan Thalut ternyata bersemangat dan memiliki keyakinan kuat dalam menghadapi musuh mereka. Mereka yang telah minum berkata, ” “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Sementara mereka yang taat menjawab, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Thalut dengan pasukannya yang beriman kemudian menyeberangi sungai tersebut untuk menyambut tentara Jalut.

Pertempuran dengan jumlah tentara yang tidak seimbang itu akhirnya dimenangkan oleh pasukan kecil Thalut, dimana Daud berhasil membunuh Jalut.

Dalam kisah itu, mereka yang ingkar dan kemudian meminum air sungai telah mengandalkan logika mereka dalam menjalani tugas yang berat. Hal itu dikarenakan mereka tidak yakin atas kepemimpinan Thalut. Sementara mereka yang setia dengan Thalut meyakini bahwa dengan ilmunya itu Thalut memberitakan hal yang benar, karena itu mereka taat dan meyakini bahwa untuk sukses menunaikan tugas yang sangat berat tersebut bukanlah kekuatan fisik yang bisa mereka andalkan, namun kekuatan keyakinan.

Segelas air dan keimanan. Saya kira hal yang sama terjadi bagi mereka yang berpuasa. Mereka yang terlalu berhitung dengan masukan nutrisi dan lain-lain bisa saja justru menjalani puasa dengan berat, sementara mereka yang bermodal bismillah dan kesahajaan menjadi ringan dalam menjalani puasa. Tentu saja bukan kemudian tidak sahur, sebab telah disunnahkan oleh Rasulullah untuk sahur, karena di dalamnya ada keberkahan. Yang penting disadari adalah bahwa kuat tidaknya menjalani puasa bukanlah karena lengkap tidaknya nutrisi yang dimakan, namun lebih karena keyakinan bahwa ada manfaat tersembunyi yang luar biasa besar dalam ibadah puasa tersebut.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Read Full Post »