Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2008

Kekalahan Diplomasi

Alkisah, suatu ketika, harimau si raja hutan merasa lapar.  Saat rasa lapar mendera, tampak di hadapannya empat ekor sapi dengan warna yang berbeda; putih, hijau, merah, dan hitam.  Untuk menerkamnya langsung, rupanya harimau tidak berani, sebab keempat sapi itu terlihat akrab, bahkan kerjasama antara mereka terjalin kokoh, saling tolong menolong.

Untuk memenuhi keinginannya, ia meminta bantuan musang, juru bicara kerajaan yang piawai dalam berdiplomasi.  Sasaran pertamanya adalah sapi warna putih.  Mulailah musang melobi ketiga sapi tersebut.  Ia berkata:”Demi keamanan kerajaan, maka sapi putih harus dikorbankan, sebab warna putih adalah warna yang terang benderang, sehingga musuh akan cepat menemukan keberadaan kita.

Jika kalian menyetujuinya, maka raja hutan akan menghadiahkan rumput dan kandang terbaik untuk kalian.”  Ketiga sapi itu berembuk hingga akhirnya menghasilkan keputusan, “Baiklah, kalau memang demi keamanan kerajaan, kami menyetujuinya.”  Dipanggilnya sapi warna putih menghadap harimau, dengan tanpa basa-basi diterkamnya sapi warna putih itu.

Rupanya, sang raja hutan belum kenyang.  Akan tetapi, ia masih belum berani untuk membunuhnya langsung, sebab ketiga sapi yang tersisa, terlihat tetap rukun dan kompak.  Maka, diutarakan kembali keinginannya kepada musang.  Kali ini targetnya adalah sapi warna hijau.  Dengan bujukan yang sama, musang melobi sapi warna merah dan warna hitam.

Sebagaimana pertama, kedua sapi itu menyatakan persetujuannya, sapi warna hijau pun menemui ajalnya.  Begitu seterusnya sehingga yang tersisa tinggal sapi warna hitam.  Awalnya, sapi warna hitam menyangka bahwa ia akan mendapat keuntungan berlipat, apalagi raja hutan menemuinya langsung tanpa perantara musang.

Sayang, sapi hitam keliru, raja  hutan ternyata masih lapar.  Barulah ia menyadari kekeliruannya selama ini.  Sebelum ajal menjemputnya, dengan penuh penyesalan ia berujar kepada harimau, “Sesungguhnya aku telah dimakan pada hari dimakannya sapi putih”.

Dr. Musayyar, Guru Besar Filsafat Universitas Al-Azhar Mesir, menggambarkan kisah di atas dengan kondisi sebagian pemimpin negara Islam saat sekarang.  Mereka terjebak dalam alur diplomasi musuh Islam yang memecah belah wihdatul ummah (kesatuan umat).

Mereka rela berkawan dengan musuh dan menjadi lawan saudara seakidah asalkan kepentingan negaranya tetap terjaga.  Padahal, kesetiaan tidak akan ditemukan bila standarnya sebatas untung rugi.  Apalagi berkawan dengan musuh, sebab mereka tidak pernah ridla sebelum kita mengikuti alur mereka.

Read Full Post »

This is the real world

Inilah dunia, ada suka ada duka, minimal ini yang bisa saya simpulkan karena peristiwa yang datang bertubi-tubi di hari-hari menjelang dan memasuki bulan Ramadhan 1429 H ini. Diawali dengan berita mengecewakan awal Agustus yang lalu, bahwa saya belum beruntung terpilih menjadi peserta workshop di Jerman… selang beberapa waktu kemudian, saya mendapat kabar gembira akan diajak bersama dengan 3 rekan dosen informatika untuk ikutan munas Aptikom di Batam, Singapura, dan Malaysia…. wadow.. gak terbayangkan senang bukan maen bisa melangkah ke luar negeri untuk pertama kalinya…
Dua minggu menjelang keberangkatan, saya dan anak2 saya terkena cacar air… hampir aja buyar segala impian saya…tapi alhamdulillah … meskipun wajah berbekas cacar karena masih dalam masa penyembuhan, akhirnya saya bisa berangkat juga…
Perjalanan Jogja-Batam yang sempat terhenti di Jakarta beberapa lama, tidak mengendorkan semangat untuk melihat dunia laen.. ce ile… Akhirnya sampe juga di Batam..
Kota pertama yang saya injak ini terkesan sedikit senyap, tidak sehiruk-pikuk Jogja.. terlihat jelas perbedaan laennya adalah warna tanah merah di Batam. Udara kota Batam yang sedikit lebih panas dan gerah walaupun waktu malam ato subuh membuat saya tidak betah berlama-lama di luar ruangan yang tidak ber-AC.
Dua hari kemudian, saya berkunjung ke Singapura… Dengan menggunakan kapal Ferry, perjalanan satu jam dari Batam bisa saya lalui dengan selamat… Kesan yang bisa saya gambarkan adalah bersih, sejuk, nyaman, aman… yang kalo di Indonesia hanya sebagai slogan aja untuk kota… benar2 tidak ada sampah, tidak terlihat tanah (karena seluruh tanah tertutup rumput) ato debu beterbangan.. mobil2 tidak berasap dan kinclong semua (gak laku kale kalo buka bisnis cuci mobil apalagi tambal ban 😉 ) tidak juga terlihat adanya kemacetan di jalan… tidak pula terlihat rumah kumuh ato rumah-rumah beratap genting semacam perumahan.. fuihh.. pokoknya hanya gedung2 tinggi dan pepohonan yang terliat… yang sangat mengherankan lagi, saya tidak meliat ada pos polisi (beserta isinya… baca:petugasnya) di pinggir2 jalan … bahkan penjualan tiket kereta aja dilayani dengan mesin… huh… luar biasa…
Pergerakan manusia2nya pun berbeda.. serba cepat seperti mengejar sesuatu… (time is money) …
Setelah puas (dipaksakan untuk puas), saya beserta rombongan Aptikom melanjutkan perjalanan ke Johor, Malaysia dengan menggunakan bis…
Tidak banyak yang bisa saya komentari di negara ini karena yang terliat mencolok perbedaannya dengan di Indonesia adalah ala berpakaian manusia2 di negara ini… Indah, Islami dan hampir seragam satu sama laen…
Perjalanan saya berakhir kembali di Batam.. mampir untuk meraup oleh2 dari sana.. selanjutnya … back to joge…
Malam 1 Ramadhan saya sudah kembali berkumpul dengan anak2 saya dalam kondisi yang tidak begitu menyenangkan… Si kecil panas demam dan tidak turun2 sampe keesokan harinya harus mengalami kejang dua kali… terpaksa saya harus luncur ke rumah sakit dan menunggui anak saya di sana sampe tiga hari… Puasa hari pertama saya jalani bersama anak saya di rumah sakit… yach… ternyata kegembiraan yang saya rasakan tidak bisa saya bagi dengan anak saya… tapi dalam hati kecil.. saya sudah berjanji akan membawa anak2 saya ikut menikmati apa yang sudah saya rasakan ini… Terima kasih Allah… di balik sedih dan gembira ini, ada hikmah yang bisa saya rasakan, selain rasa syukur nikmat atas anugrah yang Engkau berikan…

Read Full Post »