Ya.. bagi anda pembaca yang sudah berkeluarga, saya yakin.. prioritas pertama anda setelah menikah adalah rumah… Rumah tempat kita berteduh, tempat kita beristirahat, tempat kita membangun rumah tangga.. Begitu juga saya.. meskipun terbilang telat, tapi gak apalah.. lebih baek terlambat daripada tidak sama sekali–> begitulah kata pepatah.. 4 bulan terakhir ini saya sibuk cari rumah.. mulai dari menyiapkan budget.. ceile.. sampe target rumah yang akan saya beli (layak huni, tempat nyaman, jarak dari tempat kerja dan tempat belanja
and so on).
Dari hilir mudik dan aral melintang ini saya jadi mendapatkan beberapa hikmah yang mungkin bisa dicermati juga oleh pembaca yang kondisinya seperti saya (duit pas2an, kemauan banyak, prinsip ekonomilah, dengan uang sedikit dapat rumah sesuai keinginan).
1. Survey dulu harga rumah sesuai lokasi yang anda inginkan (jangan lupa membandingkan dengan iklan di koran lokal)
2. Intip budget anda… jangan takut kalo anda kekurangan dana.. Bank masih buka koq.. hi..hi..Kalo kondisi keuangan OKEY.. mending anda membeli dengan uang tunai.. (gak kepikiran bok).. Tapi kalo budget kurang (sangat kurang sekali), KPR jalan keluarnya…
3. Beberapa Bank harus anda survey dulu.. pada umumnya syarat hampir semua sama
-foto copy KTP suami-istri
-foto copy akta nikah
-foto copy KK
-foto copy NPWP suami-istri
-3 bulan slip gaji (suami-istri)
-foto copy buku tabungan aktif 3 bulan (suami-istri)
-foto copy sertifikat rumah yang akan dibeli
-foto copy IMB rumah yang akan dibeli
-PBB rumah yang akan dibeli
Tiga syarat terakhir itulah yang selama ini saya kejar2..
Dari situlah saya jadi mengerti apa makna sertifikat, IMB sampe green zone yaitu daerah yang seharusnya tidak boleh dibangun rumah, karena daerah itu merupakan daerah lahan pertanian yang subur ato lahan peresapan air…
Puih.. seandainya saja di Indonesia sudah dari dulu ketat dengan aturan itu, mestinya kita tidak pernah bermasalah dengan banjir, kekeringan, de el el-de el el masalah yang berkaitan dengan air..
so… gimana cerita selanjutnya tentang KPR saya?… Tunggu episode berikutnya kalo saya sudah dapet rumahnya yaaaaaa…
Chaoooo…
2.



Loh bu bukannya sdh disediakan kavling UII?
Alhamdulillah, hari ini saya mulai punya rumah walaupun kredit. Bu Ami bisa baca di sayaguru.blogspot.com.
Dari pengalaman saya, beli rumah tuh seperti air. Ini mungkin pengaruh saya pribadi segalanya seperti air. Tanpa digali kalau udah nyumber ya keluar sendiri, walaupun digali tapi gak ada sumbernya ya gak bakalan keluar.
Puter-puter sana sini bahkan pernah kubangan saya datangi karena mungkin cocok buat ‘rumah’ saya. Akhirnya ya beli di Amandipa Garden (balihonya dapat bu Ami lihat di depan Bentar). Lokasinya di daerah Jabon. Lumayan mahal. Tapi gak tau, udah sreg gitu ya beli.
Padahal sebelumnya ada dari sinarmas menawari asuransi syariah, sebulan cuman 300 ribu selama 10 tahun. Uang 36 juta berkembang bisa mencapai 64 juta. Sempat kebayang bisa buat naik haji. Tapi setelah pertimbangan ada unsur ‘asuransi’ saya gak mau ibadah haji saya nanti ternoda. akhirnya gak jadi. Tapi ini 1,350 jt selama 5 tahun saya minat. Total Sekitar 93.300.000,- rupiah gak ada rasa beban. Itu pake sistem in house, harga beli cash sama dengan kredit. Gak pake bunga dan gak masuk KPR.