Alkisah, suatu ketika, harimau si raja hutan merasa lapar. Saat rasa lapar mendera, tampak di hadapannya empat ekor sapi dengan warna yang berbeda; putih, hijau, merah, dan hitam. Untuk menerkamnya langsung, rupanya harimau tidak berani, sebab keempat sapi itu terlihat akrab, bahkan kerjasama antara mereka terjalin kokoh, saling tolong menolong.
Untuk memenuhi keinginannya, ia meminta bantuan musang, juru bicara kerajaan yang piawai dalam berdiplomasi. Sasaran pertamanya adalah sapi warna putih. Mulailah musang melobi ketiga sapi tersebut. Ia berkata:”Demi keamanan kerajaan, maka sapi putih harus dikorbankan, sebab warna putih adalah warna yang terang benderang, sehingga musuh akan cepat menemukan keberadaan kita.
Jika kalian menyetujuinya, maka raja hutan akan menghadiahkan rumput dan kandang terbaik untuk kalian.” Ketiga sapi itu berembuk hingga akhirnya menghasilkan keputusan, “Baiklah, kalau memang demi keamanan kerajaan, kami menyetujuinya.” Dipanggilnya sapi warna putih menghadap harimau, dengan tanpa basa-basi diterkamnya sapi warna putih itu.
Rupanya, sang raja hutan belum kenyang. Akan tetapi, ia masih belum berani untuk membunuhnya langsung, sebab ketiga sapi yang tersisa, terlihat tetap rukun dan kompak. Maka, diutarakan kembali keinginannya kepada musang. Kali ini targetnya adalah sapi warna hijau. Dengan bujukan yang sama, musang melobi sapi warna merah dan warna hitam.
Sebagaimana pertama, kedua sapi itu menyatakan persetujuannya, sapi warna hijau pun menemui ajalnya. Begitu seterusnya sehingga yang tersisa tinggal sapi warna hitam. Awalnya, sapi warna hitam menyangka bahwa ia akan mendapat keuntungan berlipat, apalagi raja hutan menemuinya langsung tanpa perantara musang.
Sayang, sapi hitam keliru, raja hutan ternyata masih lapar. Barulah ia menyadari kekeliruannya selama ini. Sebelum ajal menjemputnya, dengan penuh penyesalan ia berujar kepada harimau, “Sesungguhnya aku telah dimakan pada hari dimakannya sapi putih”.
Dr. Musayyar, Guru Besar Filsafat Universitas Al-Azhar Mesir, menggambarkan kisah di atas dengan kondisi sebagian pemimpin negara Islam saat sekarang. Mereka terjebak dalam alur diplomasi musuh Islam yang memecah belah wihdatul ummah (kesatuan umat).
Mereka rela berkawan dengan musuh dan menjadi lawan saudara seakidah asalkan kepentingan negaranya tetap terjaga. Padahal, kesetiaan tidak akan ditemukan bila standarnya sebatas untung rugi. Apalagi berkawan dengan musuh, sebab mereka tidak pernah ridla sebelum kita mengikuti alur mereka.



wah bener ini bu..
kepemimpinan setiap negara sekarang terpisah2 karena kepentingan diri sendiri, takut di embargo, takut diserang..
dan takut si presiden gak dipilih lagi musim pemilu kedepan gara2 membahayakan dalam negeri..
padahal ketika umat islam bersatu pasti akan muncul kekuatan baru, amerika pasti gak berkutik.. minyak di pegang negara islam.. baru dinaikin dikit ama timur tengah aja amerika dah kalang kabut..
kita bisa bersatu, tapi kita tidak punya kemampuan
kepemimpinan suatu kata yang tidak terlepas dari kehidupan kita, baik kepemimpinan dari jaman rasullullah sampai sekarang. kita kadang bingung seorang pemimpin sejati itu seprti apa? jelas kepemimpinan baginda rasullullah saw yang baik dan patut dicontoh….
kita bersatu maka akan timbul kekuatan yang tak terkalahkan:)
Yudan beserta seluruh artis ibukota dan macanegara mengucapkan
…minal aidin wal faidzin…mohon maaf lahir dan batin…
HAPPY IEDUL FITRI 1429 H
ditambah soutmix donk bu? biar ninggalin messagenya jadi gampang , bagus lho ^_^ :
http://www.shoutmix.com
sebuah analogi kepeimpinan yang bagus, mbak fauzijah. semoga saja para pemimpin umat meulai sadar bahwa ada pihak2 tertentu yang sengaja ingin mengadu domba, sehingga kawan justru akhirnya dijadikan lawan. postingan yang menarik dan reflektif.
rizoa berkunjung nech..baca2 iah….
wah, makasih banget apresiasinya, mbak fauzijah. kalau memang berminat untuk mengirimkan tulisan saya di media lokal, silakan, mbak. ndak banyak kok syaratnya. cukup cantumkan sumber tulisan dan nama penulisnya saja, mbak. bagi saya itu sudah merupakan kehormatan buat saya. terima kasih sekali lagi, mbak, semoga masalah yang dihadapi mbak fauzijah bisa cepet terselesaikan dengan cara yang baik.
hmmm nice posting mbak,,….
btw, kok ngutip cerita Dr. Musayyar?? pernah kuliah di Azhar ya? he… sekedar tanya, mbak…
sekalian minta doa, bentar lagi kami di Azhar mo ujian, doanya ya… moga ilmunya bermanfaat. amin99x
mbak,
penguasa di negeri kita tercinta ini adalah waliyul amri (bahasa arabnya). baik makna leksikal maupun gramatikalnya. dan untuk menjadi waliyul amri, Alloh telah berikan rambu-rambu yang begitu sungguh amat sangat jelas. al-Qur’an dan as-Sunnah titik
bila kamu ikuti hukum lain selain itu. tinggal tunggu kehancurannya. lalu apakah kita, mukminin, akan menjadi pioner penghancuran itu?
maka kita merasa belum mampu untuk menjadi waliyul amri. anak-anak kitalah yang kita bekali. hafalkan al-Qur’an. maknai. kemudian jadikan ayat-ayat yang hidup. hanya itu saja.
insyaallah jika abu, ummu sekalian beserta putera-puteri dalam satu rumah bersama lakukan itu. kejayaan Islam tinggal tunggu waktu…
jika sebaliknya?